
Suatu ketika, seorang kerabat curhat tentang kegelisahan hati kawannya yang belum lama ini menyandang predikat janda. Tema ini menyeret ingatan saya pada pertemuan saya dengan beberapa orang karib beberapa waktu yang lalu. Saat itu kami memang membincangkan tentang perempuan dan segala persoalannya, hingga ke masalah janda.
Janda adalah sebuah predikat bagi seorang istri yang tak lagi bersuami, baik ditinggal cerai atau ditinggal mati. Secara sosial predikat janda cerai kerap menimbulkan ‘hambatan psikologis’ dalam berinteraksi. Bisa jadi hambatan ini muncul lantaran cerai berkonotasi dengan diawali peristiwa ’huru-hara’. Konotasi ini semakin menghujam karena tak menjelaskan siapa yang membuat ulah dan akhirnya siapa yang bersalah. Masalah ini hanya konsumsi ruang privat bukan publik. Namun, tak urung menjadi pembicaraan publik. Lain lagi dengan istri yang ditinggal mati sang suami. Predikat ini dianggap masih mengundang rasa simpatik. Kendati demikian, tetap tak mampu mengeliminir omongan miring yang membuat hati miris, sebagaimana curhatnya seorang kerabat tentang temannya di atas tadi.
Tapi mengapa masyarakat tidak merasa perlu terjun dalam ’kesibukan’ saat melihat fenomena para duda? Padahal realita keduanya sama. Artinya, sama-sama ditinggalkan cerai atau ditinggal mati pasangannya.
Sedikit berbagi, kami yang saat itu semangat bertukar pikiran akhirnya menyimpulkan bahwa banyak hal yang dapat diperbandingkan antara realita janda dan duda. Yang jelas, janda lebih ’survive’ menghadapi kehidupan selanjutnya dibanding duda, meski harus berperan ganda sebagai ibu dan ayah. Cobalah kita amati realitas di sekeliling kita. Meski tidak mengeneralisir, namun tak sedikit laki-laki yang ‘ambruk’ setelah istrinya meninggal hingga tak perlu menunggu hitungan tahun ia sudah berpikir untuk segera menikah lagi. Sementara perempuan, bahkan tahan bertahun-tahun hidup sendiri tanpa seorang suami di sisi. Kekuatan apa yang membuat perempuan menjadi begini? Kekuatan emosi tentunya tanpa menafikan kekuatas spiritualnya. Cinta, kasih-sayang, kesetiaan dan memikirkan kepentingan orang lain (anak) di atas kepentingan diri sendiri.
Begitulah kenyataannya. Tak terasa perbincangan kami semakin hangat hingga kami menyimpulkan bahwa menjadi janda akhirnya menjadi “sesuatu yang berbeda”. Kok bisa? Mungkin itulah kalimat yang meluncur sebagai penanda bahwa hati ini sepenuhnya tak mengerti maksudnya. Kami hanya ingin menegaskan bahwa ’perbedaan’ itu memang telah lama dicitrakan oleh masyarakat sekaligus ’disetujui’ pula oleh masyarakat pada umumnya. Aneh ya? Coba saja kita ingat baik-baik. Berapa banyak cerita bertemakan janda yang diangkat ke dalam cepen, cerbung, novel hingga film. Mulai dari jenis horor sampai dengan ’pepesan kosong’ yang dikemas dalam anekdot sarkastik. Yang lebih lucu lagi, ada sebuah mitos di negara Perancis yang menyakini bahwa Ungu adalah warna yang ’mewakili’ komunias janda. Duuh! Maksudnya apa ya? Padahal warna ini malah menjadi label boyband—sepertinya belum ada yang berstatus duda—terkenal di tanah air. Lalu, ada lagi istilah si Black Widow (janda hitam) sebutan seekor laba-laba yang racun bisanya sangat mematikan. Hubungannya sama janda ’manusia’ apa ya? Dan terakhir, label Janda Kembang yang kerap menghadirkan debar di dada baik perempuan maupun laki-laki. Tapi tentu saja irama degubnya berbeda. Debaran yang terdengar oleh telinga wanita adalah debar menahan cemas takut kalau-kalau si Janda merebut ’hati’ suaminya. Sedangkan pria? Tentu saja debarnya lantaran statusnya yang janda adalah lawan jenis yang berkesan memberinya peluang untuk menjadi pendampingnya. Aiiih....GR banget ya!
Mestinya, sebagai fenomena kemanusiaan, status janda tidak harus disikapi dengan berlebihan. Sebagaimana Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, begitu pula manusia. Ada laki-laki ada perempuan. Ada pernikahan ada perceraian. Ada kehidupan ada kematian. Ada pasangan ada single. Ada duda ada janda. Biasa, bukan?
Justru sebagai wanita mestinya kita lebih mampu berempati pada mereka yang nota bene kaum ‘kita’. Saya malah terpukau dengan pengalaman hidup kerabat terdekat saya yang Allah taqdirkan menjanda. Ia menjadi janda saat usia penikahannya belum lagi genap 3 tahun. Sang suami menjemput taqdir Allah saat menyelamatkan korban banjir bandang di daerah Sumatera Utara beberapa tahun silam. Singkat cerita, kerabat saya itu ‘struggle’ menghidupi diri dan buah hati tercintanya yang saat itu berusia 18 bulan. Kepayahan hidup tak membuatnya surut untuk menjalankan peran strategis sebagai seorang Ibu sekaligus Ayah bagi sang anak. Kini si anak telah berusia 12 tahun (SMP kelas 1) telah menyandang gelar Hafidz Qur’an 30 Juz. Sementara kerabat saya itu (5thn yang lalu telah menikah kembali, alhamdulillah) telah menyandang predikat Mahasiswa Post Doctoral di sebuah perguruan tinggi negeri di tanah air dengan predikat ‘terpuji’.
Subhanallah!
Janda. Ah, sebuah label yang membuat banyak perempuan takut menyandang predikat itu. Tak sedikit yang menganggap perempuan berstatus janda, terutama karena cerai, bukan sebagai ‘warga’ masyarakat biasa. Ada catatan merah. Ada lingkaran penanda. Namun, pahamilah apakah fenomena janda memang sebuah predikat ‘aneh’? Apakah salah menjadi janda? Atau apakah memang ‘aman’ menjadi duda karena selalu ‘benar?
Wallahu’alam bis shawwab,
Edisi revisi dari tulisan yang sama. Pernah dipublikasikan di sebuah website
0 Komentar