
Banyak orang percaya, berkencan dengan seorang duda, ibarat menjaring masalah. Padahal, di luar status dudanya, bisa dibilang dia memenuhi kriteria pria idaman, memiliki sifat sabar, perhatian, pengertian, dan mapan. Nah, bagaimana meyakinkan diri bahwa dirinya Mr. Right yang selama ini Anda cari?
DUDA VS LAJANG
Dengan tingkat kawin-cerai yang kian meninggi, tampaknya juga menelurkan duren (duda keren), yang usianya terhitung masih muda. Tak heran, para duda ini menjadi incaran sebagai pendamping hidup bagi para wanita. Sebetulnya, menurut Roslina Verauli, psikolog dari Universitas Tarumanegara, berpacaran dengan duda atau pria lajang secara umum tak berbeda. Bahkan, berkencan dengan seorang duda memiliki kelebihan tertentu. Mereka lebih menyadari masalah yang bakal dihadapi dalam menjalin asmara, berikut kemampuan untuk mengatasinya. Namun, Anda juga perlu bersiap menghadapi sejarah kehidupannya.
KENALI LEBIH DALAM
Jika telanjur kecantol pada seorang duda, jangan langsung mundur. Perasaan takut tak perlu dibesarkan, yang penting, minimalkan dengan mengenalinya luar dalam. Jadi, butuh proses, tidak bisa instan. Perhatikan caranya membuka diri dan menyesuaikan hubungan dengan Anda. Jalani hubungan secara perlahan, agar Anda bisa menerima masa lalunya, sekaligus menempuh masa depan bersamanya.
DUDA CERAI MATI VS DUDA CERAI HIDUP
Ada dua macam duda, yakni duda cerai mati dan duda cerai hidup. Bila kekasih Anda adalah duda yang ditinggal mati istrinya, boleh dibilang dia tidak gagal dalam berumah tangga. Hanya, kenangan yang ditinggalkan sang istri, dapat membayangi Anda berdua. Cara terbaik adalah mengajak kekasih untuk berpikir realistis ke depan. Jangan terpaku pada masa lalu. Ajaklah dia mengalkulasi rencana masa depan.
Pria bercerai hidup, ikatan emosional antara si dia dengan mantan istrinya umumnya tak terlalu dalam. Tapi buruknya, Anda cenderung curiga, jangan-jangan si dia menjadikan Anda pengisi kesepiannya.





Jadi, kendati waktu tak bisa menjadi patokan kesiapan Anda berdua untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, setidaknya dengan ‘membaca’ proses penyesuaian diri bersamanya, Anda bisa melihat ke arah mana hubungan ini akan berlanjut. Apakah serius hingga ke gerbang perkawinan, ataukah cukup hingga di sini saja.
[Sumber: Majalah Femina]
0 Komentar